menuju-Mu

Rabbana, diriku hanyalah setitik debu di hadapan keagunganMu.
Maka jagalah hati ini,
dari terlihat besar di mata manusia
namun kecil di mataMu
dari terasa baik di mata manusia
namun hina di mataMu
dari merasa benar di mata manusia
namun salah di mataMu
Jadikanlah aku lebih baik dari persangkaan diri dan orang lain

Tampilkan postingan dengan label aqidah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label aqidah. Tampilkan semua postingan

Senin, 09 April 2012

7 Jurus Maut Siasat Setan


Allah berfirman dalam Al- Qur’an:

وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نِبِيٍّ عَدُوّاً شَيَاطِينَ الإِنسِ وَالْجِنِّ يُوحِي بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُوراً وَلَوْ شَاء رَبُّكَ مَا فَعَلُوهُ فَذَرْهُمْ وَمَا يَفْتَرُونَ

“Dan demikianlah Aku jadikan bagi setiap Nabi itu (pasti) ada musuhnya berupa Setan manusia dan Jin. Mereka saling memberi inspirasi sebagian kepada sebahagiannya dengan reka- reka rayuan yang mengandung tipu daya” (QS. Al-An’am 112)
Imam Ghozali dalam salah satu kitabnya berjudul “Minhaajul Aabidiin” yang telah di syarahkan oleh Syekh Ikhsan Al- Jampesy dengan judul ‘Siroojut Thoolibin”, pada juz awal/312 mengungkapkan tentang adanya 7 (tujuh) jurus maut Setan bin Iblis laknatullaoh dalam menggoda anak manusia tanpa kecuali bahkan juga para cerdik pandai dan para ulamanya tak lepas dari rayuan gombal dan serangan jurus maut mereka sehingga banyak diantara mereka terlena dan tergelincir terkena godaannya.
7 jurus itu dilancarkan setan susul menyusul tanpa henti dan bergelombang secara simultan bak air bah menggempur benteng pertahanan hati manusia, dan siapapun yang lengah akan jebol pertahanannya, tak peduli dia seorang santri atau kyai, terkecuali orang- orang yang berlindung dan mendapat perlindungan Sang Maha Perkasa, Allah SWT.
Oleh karena bahaya dan licik serta halusnya rayuan dan godaan itu, sangat perlu bagi kita untuk memahami dan meng- identifikasi cara- cara mereka agar kita waspada bila serangan itu datang seraya memohon perlindungan kepada Allah SWT.
1Jurus Pertama: Apa untungnya beribadah?
"Ada sekelompok orang yang beribadah kepada Allah karena menghendaki keuntungan. Itu ibadahnya pedagang. Ada lagi sekelompok orang yang beribadah kepada Allah karena takut akan siksa. Itu ibadahnya budak. Kemudian, ada sekelompok orang beribadah kepada Allah semata-mata karena cinta dan wujud syukur kepada-Nya. Itulah ibadah orang merdeka."
 

Terkadang kita mengalami saat-saat ujian kesengsaraan itu datang bertubi-tubi. Baru saja ditinggal suami meninggal, ternyata divonis menderita penyakit ganas, lalu anak ditangkap karena tersangkut kasus narkoba. Ujian kesengsaraan tidak jarang membawa kita makin dekat dengan Allah tapi tidak jarang pula kesengsaraan yang silih berganti menguras kesabaran kita. 
Di sini setan mulai melancarkan serangannya. Ia membuat ibadah kita seolah tiada gunanya, ia membuat kita berprasangka dan bertanya-tanya mengapa sedemikian beratnya Allah memperlakukanku. Apa dosaku? Sementara tetanggaku sebelah rumah yang jelas-jelas tidak pernah sholat, yang jelas-jelas rentenir sehat wal afiat dan anak-anaknya juara kelas di sekolahnya. Maka perlahan-lahan kualitas ibadah kita mulai terpengaruh. Yang tadinya sholat di awal waktu, jadi sering terlambat. Yang tadinya membaca surat2 panjang jadi merasa cukup dengan yang pendek-pendek saja. Pelan tapi pasti akhirnya mungkin malah kita jadi meninggalkan sholat. Naudzubillah.

Setan akan membisiki jiwa manusia agar ia tak perlu bersusah payah berbakti dan beribadah kepada Allah. Bukankah banyak orang yang tak beribadah pun dapat hidup senang dengan kekayaan melimpah, sebaliknya banyak para ahli ibadah namun hidup mereka tetap saja susah? Maka banyaklah manusia goyah imannya mendapat serangan seperti ini, kecuali orang- orang yang telah mendapatkan hidayah Allah.
Meninggalkan ibadah karena merasa tidak ada untungnya mungkin terasa jauh dari bayangan kita yang insya Allah memahami bahwa ibadah kita bukan untuk mencari keuntungan duniawi. Tetapi yang sering kita lakukan biasanya adalah melakukan ibadah sekedarnya saja, cukup terpenuhi rukun-rukunnya saja. Kita kurang semangat untuk menyempurnakan ibadah kita dengan sunnah-sunnahnya. Salah satu sebabnya bisa jadi karena kita belum tahu apa keuntungannya.

Rata-rata para ibu pasti hafal hampir di luar kepala berapa harga-harga barang yang murah. Di supermarket A harga minyak goreng lebih murah dari supermarket B, sebaliknya harga makanan ringan lebih murah di supermarket C. Berharap akan ada sisa uang belanja yang bisa kita simpan untuk membeli baju impian kita misalkan kita jadi rela berjibaku mencari dimana menjual dengan harga termurah. Mau sedikit capek begini tentu karena kita merasa akan ada sesuatu yang bisa kita dapatkan.
Nah, mengapa tak kita lakukan rumus yang sama untuk ibadah harian kita? Tahu berapa harga sholat, puasa, sedekah dan ibadah-ibadah lainnya yang kita kerjakan atau kita lewatkan? Tahu berapa harga sunnah-sunnah ibadah yang kita malas melakukannya karena toh tidak dikerjakan juga ibadahnya sah, kan cuma sunnah? Tidak dikerjakan toh tidak dosa, kan cuma sunnah?
Sholat di masjid apa untungnya daripada di rumah? Berjamaah apa untungnya daripada sendiri ? Apa keuntungan sholat sunnah ? Sedekah ? Puasa Senin Kamis dan sunnah-sunnah yang dianjurkan lainnya? Sedikit bocoran saja dari tulisan yang saya kutip dari Fadhilah A’mal.
“Dua rakaat shalat dengan bersiwak lebih utama daripada tujuh puluh rakaat tanpa bersiwak”
Bayangkan, sampai hal yang sepele seperti bersiwak (sikat gigi) dibahas dan sangat berpengaruh tujuh puluh kali bagi shalat kita.
Dan tahukah kalian orang-orang kaya di Indonesia misalnya Bakrie, Surya Paloh dan pengusaha-pengusaha lainnya tidak ada artinya jika dibandingkan dengan ibadah yang satu ini.
Ibadah yang hanya dilakukan kurang dari 10 menit, satu lagi bocoran untuk kita semua tentang keuntungan yang kita dapat jika melakukan sunnah :
“Dua rakaat shalat tahajjud adalah lebih berharga daripada seluruh kekayaan di dunia ini. Seandainya tidak memberatkan umatku, niscaya aku akan mewajibkan kepada mereka”
Hanya dengan shalat tahajjud saja, kita lebih kaya dan terhormat dari pengusaha-pengusaha di Indonesia bahkan lebih berharga dari semua kekayaan di dunia ini, saya yakin ibu-ibu yang paling cermat hitungannya sekalipun tidak dapat menuliskan berapa keuntungannya di dalam buku catatan belanjanya jika melakukan ibadah sunnah ini karena banyaknya, saya kira tidak ada satu dari kita yang tau berapa rupiah kah seluruh kekayaan di dunia ini. 

Maka kalau setan telah mengiming-imingi kita dengan jurus pertamanya ini, jangan ragu jawablah dengan mengingat-ingat kembali bahwa sungguh ibadah bukan untuk mencari keuntungan duniawi. Justru kita takut kalau-kalau Allah membalas semua amal shalih kita di dunia saja dan tidak menyisakan pahala sedikitpun yang bisa kita tuai di akhirat nanti.
Jurus Kedua: menunda aktivitas
Setelah mundur sejenak, setanpun segera menggebrak dengan jurus kedua, setan berkata: “Oke deh kamu beribadah untuk bekal akhirat, tapi masih ada banyak waktu untuk itu. Kamu masih sehat, masih berapa sih usiamu? Tetanggamu yang sudah hamper 75 tahun saja masih kuat kok beribadah.”
Atau “ Jangan terlalu menyiksa diri, Allah kan juga tidak suka kalau kau memberatkan dirimu sendiri. Sudah besok saja sholat malamnya, malam ini kamu kan capek sekali habis membantu tetangga yang hajatan, anggap saja pahala sholat malamnya sudah kamu tutup dengan pahala membantu tetangga.”
Maka banyak nian anak manusia punya keinginan untuk beribadah, namun hanya sekedar keinginan. Karena bahaya dari menunda itu bukan tertundanya amal dari sekarang menjadi besok, tapi ia akan menjadi candu yang membuat kita akan selalu menunda dan menunda. Ketika kita membuka satu pintu penundaan maka akan terbuka pintu-pintu penundaan yang lain. Dia pikir waktu itu berhenti, padahal waktu terus berjalan dengan amat cepatnya, sehingga tiba- tiba ia sakit, ada halangan atau ajalpun menjemput sebelum sempat berbuat apa- apa…
Namun seorang yang mendapatkan tuntunan ilahi akan segera menyanggah rayuan gombal ini dan dengan tegas ia menjawab: “ Umurku tidak berada ditanganku. Siapa yang tahu dan dapat menjamin bahwa esok aku masih dapat menghirup udara kehidupan? Maka bila aku tunda ibadahku hari ini siapa yang dapat menjamin bahwa aku bisa melakukannya esok hari? Bukankah tiap saat dan tiap waktu dapat bernilai ibadah? Jika aku tunda aktivitas ibadahku hari ini maka berarti aku akan rugi hari ini karena besok ada nilai ibadah tersendiri yang telah disediakan Allah kepada para hambanya yang ingin meraihnya”.
Cukuplah perkataan indah dari Hasan Al Bashri “Sesungguhnya engkau hanyalah sekumpulan hari. Ketika berlalu sehari berlalu pula sebagian dirimu.”

Ada beberapa hal yang biasanya menjadikan seseorang menunda-nunda aktivitas :

Pertama, Thulul Amal (merasa umur masih panjang)
Imam Ibnu Hajar dalam kitab Fathul Barri, jilid XI, menjelaskan, bahwa jika penyakit thulul amal ini menjangkiti manusia, maka tidak ayal lagi akan membawa indikisasi yang lebih serius, misalnya mulai mendekati larangan Allah, enggan bertobat apalagi dengan ditundanya azab Allah bagi umat Muhammad (berbeda dengan umat-umat sebelumnya) akan semakin mengenjoykan orang-orang yang terjangkit penyakit ini. Akhirnya lupa alam akhirat dan hatinya menjadi keras. Sementara hati dapat menjadi lunak dan bersih hanya dengan mengingat-ingat kematian, kehidupan di alam barzakh, pahala serta siksa.
Tepat sekali sabda Rasullulah Saw, “Bahwa orang (dari umatku) yang paling cerdas adalah yang mempersiapkan hidupnya untuk matinya.” Artinya, ketika kita melakukan setiap perbuatan hendaklah selalu ingat, JANGAN-JANGAN INI KESEMPATANKU YANG TERAKHIR. Kita kuliah, kita bekerja, kita berbakti pada orang-tua, kita sholat, kita berdakwah dan lain-lain mesti harus ingat prinsip ini. Jangan sekali-kali menyepelekan waktu barang sedetik pun, semenit pun, apalagi sampai sejam, sehari, seminggu! Ingat, seorang pelari 100 m, mereka sangat menghargai waktu 1 detik. Juga seorang pilot pesawat terbang adalah orang yang menghargai waktu 1 menit. Itu semua, karena kematian atau ajal akan datang kapan saja dan dimana saja! Allah SWT akan memilih secara acak kepada siapa ajal akan diberikan.

Kedua, lebih percaya pada dugaan daripada realitas.
Jika kita memiliki produktivitas dan percaya diri yang tinggi amatlah bagus. Namun jika produktivitas dan PD yang tinggi tersebut kemudian melahirkan ditundanya aktivitas yang mestinya segera kita lakukan, berarti ada yang keliru pada diri kita. Sejelas apapun plan mapping yang kita buat, serinci apapun semua kita hitung. Tetap ada wilayah abu-abu dimana di situ qodho’ Allah akan berbuat.

Ketiga, Menjadikan orang lain sebagai tolak ukur
Artinya, menyangka bahwa kebahagiaan, keberhasilan atau kecelakaan dirinya ditentukan oleh orang lain. Contohnya, perkataan, “Si anu hari ini tidak baca al-Qur’an, kalo gitu saya juga tidak baca dong…” atau perkataan lain, “Alhamdullilah, si anu ternyata belum mengerjakan . Padahal dia kan… termasuk orang paling rajin. Dia aja yang rajin masih belum, saya juga nanti saja ah mengerjakannya…” Jelas, sikap demikian sesungguhnya cerminan dari orang yang tidak mandiri! Semestinya kita sebagai kaum muslim sadar akan firman Allah SWT:

“Tidaklah suatu jiwa menanggung dosa orang lain…” (QS.al-An’âm [6]: 164)

“Setiap orang bertanggung jawab terhadap apa-apa yang ia lakukan…” (QS. ath-Thûr [52]: 21).

Dari ayat diatas jelas, bahwa Allah memberitahukan pada kita kalau melakukan kebaikan atau melakukan kemaksiatan yang akan dihisab adalah diri kita sendiri atas dasar perbuatan sendiri. Bila demikian keadaannya maka siapapun yang menyadari hal ini tidak akan lagi menggantungkan perbuatannya kepada “melakukan atau tidaknya orang lain”.

Karenanya, yang musti dinyatakan dalam diri kita, “Orang lain shalih atau tidak, saya harus shalih!” “Orang lain hari ini membaca al-Qur’an atau tidak, saya harus membaca!” “Orang lain berdakwah atau tidak, saya harus tetap berdakwah!”

Keempat, malas
Malas adalah musuh bagi seorang muslim, karena sikap malas berasal dari syaithan. Sebagaimana Amerika dan Israel adalah musuh kita, karena telah membantai sekian juta kaum muslim!
Oleh karena itu, ada 2 langkah yang perlu dilakukan kita untuk menghancurkan rasa malas tersebut:
1. Mengesampingkan rasa malas tersebut, lalu bersegera keras untuk melakukan aktivitas yang harus dilakukan.
2. Berlindung kepada Allah SWT dari sikap malas. 
Bagaimana caranya? Caranya seperti ketika kita dikejar-kejar anjing. Pertama kita lari, kok…masih ngejar, kita berhenti, kemudian cari batu. Sudah dilempar batu tapi kok…masih ngejar juga, terakhir kita panggil pemiliknya. Yakin deh…ketika pemiliknya datang, pasti anjingnya manut (berhenti). Sebagaimana ketika kita mengusir setan. Panggil pemiliknya atau yang menciptakannya, yaitu Allah SWT. Bacakan doa-doa yang intinya kita berlindung dari godaan setan. Dengan pertolongan si pemilik syaithan (Allah SWT), syaithan-nya pasti lari.

Kelima, ketidaktahuan tentang apa yang harus dikerjakan
Barangkali orang yang menunda aktivitas –padahal waktunya juga luang– adalah orang-orang yang dikarenakan tidak tahu apa yang seharusnya dikerjakan. Yang pada akhirnya, bersikap bingung, kemudian melamun, hingga tidur-tidur-an sampe tidur beneran.

Jika ini yang menyebabkan tertundanya aktivitas, maka solusi yang baik adalah melakukan perencanaan.Halah, wong cuma ibu rumahtangga kok sampai bikin perencanaan sih? Ingat, kata pepatah “Kegagalan dalam merencanakan berarti berbanding lurus dengan merencanakan kegagalan.” Mari kita belajar merencanakan kegiatan kita. Mulai dari menentukan menu esok hari, terbukti dari hal kecil ini saja kita banyak membuang waktu. Seorang ibu yang belum tahu hari itu akan masak apa jadi sering bengong dan bingung di depan gerobak tukang sayur. Lihat bayam segar ah bikin sayur bayam ah, tapi kok Bu itu pegang rebung kok kayaknya enak banget bikin lodeh. Sampai di dapur, oh iya daun salamnya gak ada. Dalam hal kecil saja tidak matangnya perencanaan membuat banyak kesulitan, apalagi dalam hal yang lebih serius dan mengikutsertakan banyak orang. Apalagi dalam hal seserius mempersiapkan bekal kematian?

Kehidupan Rasullullah Saw, bila kita lihat sirah-nya, hidupnya penuh dengan perencanaan. Misalnya, bagaimana ketika beliau akan ber-hijrah dari Mekkah ke Madinah. Saat itu sarat dengan perencanaan. Sampe-sampe siapa yang nanti harus dijadikan “peran” pengganti sebagai Rasul saat tidur pun, sudah direncanakan matang-matang, yaitu, sahabatnya Ali ibn Thalib r.a.

Keenam, aktivitas yang melebihi kapasitas diri sendiri
Keinginan untuk bisa melakukan aktivitas semuanya pada waktu yang berbarengan, memang ada dan menimpa setiap orang. Namun, bijak kiranya suatu saat kita perlu mengeremnya ketika itu diluar kemampuan kita. Jika tidak, semuanya akan serba tanggung, serba setengah-setengah alias tidak maximal. Selain karena faktor keterbatasan diri sendiri, waktu yang diperuntukkan Allah bagi manusia juga amatlah sedikit. Bayangkan, sehari hanya 24 jam. Tidak lebih. Padahal kewajiban yang harus ditunaikan demikian banyak. Betul kata pepatah, “al waqthu qashir wal amal katsir” (waktu amatlah sedikit, namun pekerjaan sangat banyak).

Maka dari itu satu-satunya cara yang harus ditempuh adalah menetapkan skala prioritas. Tentunya bagi seorang muslim yang taat, skala prioritas musti dikembalikan kepada skala-syariat. Yakni, apakah itu wajib, sunnah (mandub), mubah (boleh), makruh ataukah haram. Dengan skala prioritas ini, insya allah kita akan terjaga dari perkara-perkara yang sia-sia, juga waktu yang setiap detik, menit selalu berganti tidak akan terbuang cuma-cuma. Nabi Saw, mengingatkan:

“Diantara baiknya Islam seseorang adalah meninggalkan apapun yang tidak berguna baginya.” [HR. at-Tirmidzi].

Dan salah satu ciri orang mukmin adalah meninggalkan laghwu, yaitu perkara yang sia-sia, seperti disebut pada awal-awal surat al-Mukminun.

Inilah sekilas landasan yang dapat dijadikan pegangan dalam menghilangkan penyakit menunda-nunda aktivitas kebaikan. Hanya saja, kuncinya tetap ada pada kita sendiri.

Jurus Ketiga: Lakukan aktivitas secepatnya tanpa perlu tahu ilmunya!
“Oh begitu”. Kata Iblis. “Kalian menginginkan beribadah sekarang, O.K!. Silahkan, silahkan… ayo kerjakan secepatnya, tanpa perlu tahu kaifiyat dan tata caranya yang benar. Lakukan saja sebanyak- banyak nya. Soal ilmu dan kaifiyatnya, itu soal nanti…”

Maka banyaklah manusia beribadah ngawur. Sholat ngebut, thuma’ninahnya ditinggal yang penting dapat rakaat banyak. Membaca Al Quran ngebut, waqof ditabrak, makhraj apalagi, yang penting target 1 juz sehari kena.Kalau diingatkan, mereka marah- marah, katanya Allah tidak akan mempersulit kita. Memang, agama itu mudah namun jangan dipermudah
Kecuali hamba- hamba Allah yang mendapat taufiqNya ia akan berkata: “ Bukankah Rasulullah pernah bersabda bawa: Qoliilu ‘amal ma’at tamaam, khoirun min katsiirihii ma’an nuqshoon?” Amal ibadah yang sedikit namun sempurna adalah lebih baik daripada banyak amal dengan banyak kekurangan?” Capek rasanya kalau kita bekerja namun imbalannya tak seberapa apalagi bila ternyata hanya menyebabkan murka Nya?”
Jurus Keempat: memamerkan kehebatan amaliyahnya.
Baiklah, kita sekarang telah berilmu dan beribadah, tapi setanpun tak pernah kehilangan akal. Pada langkah keempat setanpun merasuki jiwa manusia BER- ILMU YANG SEDANG MELAKUKAN IBADAH itu, dan membisiki jiwa mereka dengan pujian: “ Lihat, lihat semua orang memperhatikan kalian… kalian sungguh hebat dan berilmu dalam beribadah. Tunjukkan kepada mereka ibadah kalian itu.”
Orang- orang yang tergelincir terkena godaan setan segera timbul riya’ nya. Buktinya sewaktu sholat d irumah dia ngebut bahkan tanpa dzikir ba’da sholat, namun saat sholat di mesjid sangat kelihatan khusyu’nya dan dzikirnya pun sangat panjang dan keras agar didengar orang. Padahal khusyu’ dan dzikirnya itu sekedar pamer, agar ia dipuji sebagai orang yang khusyu’ dalam sholat.
Namun manusia manusia yang beruntung akan menolaknya dengan mengatakan: “ Penglihatan Allah sudah cukup bagiku, karena Dialah yang akan membayarkan pahalaNya kepadaku, bukan yang lain. Manusia adalah makhluk tak berdaya, aku tak butuh penghargaan mereka…”
Jurus Kelima: Merasa dirinya hebat dan paling pantas masuk surga.
Mental dengan jurusnya, setan masuk dengan jurus lain. Dengan berbisik Iblis berkata kedalam hati si Abid: “ Yah kuakui kau memang hebat… Sudah rajin ibadah, paham ilmunya, ikhlas pula. Ya..ya.. kaulah yang terbaik di negeri ini, yang paling ikhlas dan paling alim, yang paling pantas masuk sorga. Kalau orang macam tetanggamu tuh mana berhak masuk surga, infaq aja dipamer-pamerin. Padahal besarnya tak sampai sepersepuluh infaq yang kau keluarkan sembunyi-sembunyi.”
Maka muncullah orang- orang yang UJUB, yang merasa dirinya paling hebat, paling alim, paling benar, paling suci, paling unggul dibanding orang lain, paling cocok masuk surga. Iapun tak segan untuk mengecilkan dan merendahkan bahkan menghina orang lain. Dalam bahasa psychology mereka disebut mengalami MEGALOMANIA complex, suatu penyakit jiwa yang pernah dialami oleh Fir’aun, Namrudz, Hitler, Mussolini dan lainnya.
Pada tahapan ini mulai banyak para ustadz, guru ngaji, ulama dan kiyai terjebak dalam rayuan setan berupa ibadah riya’ dan ujub tanpa terasa, bahkan ia masuk kedalam lumpur jebakan yang lebih dalam yaitu hasud dan dengki. Tatkala ia melihat guru ngaji lain lebih berhasil, kyai lain lebih banyak muridnya dan melihat ulama’ lain lebih sukses mengelola pesantrennya, alih- alih bersyukur dan ikut merasa senang atas sukses teman- temannya yang berarti juga suksesnya da’wah Islam, karena bujukan dan rayuan Setan ia menjadi penghasut, penfitnah bahkan penghujat paling aktif bagi teman- teman seprofesinya itu… Na’uudzu billaahi mindzaalik.
Kecuali orang- orang yang mendapat perlindungan Allah, dia akan sanggup menolaknya dan berkata: “ Innanii hadaanii Robbii ilaa shiroothim mustaqiim. Cukuplah Allah yang menggerakkan hatiku dan membalas amalku. Dia pula yang menyebabkan aku tergerak hati untuk melangkahkan kaki beribadah. Tanpa petunjuk Nya mana mungkin aku bisa melakukan segala kebaikan in? Maka apakah hebatnya aku, karena aku hanyalah digerakkan oleh kekuatan Nya, karena tiada daya melakukan perbuatan baik dan tidak ada kekuatan untuk menjauhi keburukan kecuali hanya dengan pertolongan Allah Yang Maha Agung. Laa haula walaa quwwata illaa billaahil aliyyil adhiimi”.
Jurus Ke-enam: Seorang wali tak perlu lagi ber- ibadah!
Gagal maning..gagal maning, kata setan.
Simaklah talbis syetan yang pernah dihadapi oleh Syekh Abdul Qadir al-Jailani. Talbis itu begitu halus dan dikemas dengan kebaikan serta disampaikan dengan cara elegan. Kalau kita tidak jeli dan tidak punya pemahaman agama yang mendalam, pasti kita akan terjebak dan terjerembab dalam perangkat syetan tersebut.
Dalam kitab Mashaibul Insan diceritakan, “Syekh Abdul Qadir al-Jailani berkata, ‘Dalam suatu perjalanan, aku merasakan cuaca yang sangat panas, hampir saja aku mati kehausan. Lalu datanglah awan menaungiku, dan angin terasa datang bergerak menghembus tubuhku, dan ludah pun terasa mengalir di mulutku.
Di saat yang menyenangkan itu, tiba-tiba aku mendengar suara, “Wahai Abdul Qadir, Aku adalah Tuhanmu”. Maka akun menyahut, ‘Engkau Allah ? Tiada Tuhan selain Engkau”. Lalu ia memanggilku lagi, “wahai Abdul Qadir, Aku adalah Tuhanmu. Aku halalkan apa yang telah diharamkan”. Aku segera membentaknya, “Engkau pendusta, engkau adalah syetan.”
Awan hitam itu pun berhamburan. Lalu aku mendengar suara di belakangku dengan nada bergera, “Wahai Abdul Qadir, kamu telah selamat dari tipudayaku, karena pemahaman agamamu yang dalam. Sebelumnya aku telah mengelincirkan 70 orang dengan cara ini.”
Ada yang bertanya kepada Syekh Abdul Qadir, “Bagaimana kamu mengetahui bahwa adalah syetan”? Abdul Qadir menjawab, “ Barang siapa yang berkata, ‘ telah aku halalkan bagimu ini dan itu, maka engkau dapat memastikan bahwa ia adalah syetan. Karena sepeninggalkan Rasulullah, tidak ada lagi yang berhak menghalalkan apa yang telah diharamkan.” (Musibah Akibat Tipuan Syetan : 145-146).
Sungguh cerita di atas merupakan pelajaran yang sangat berharga bagi kita semua. Jangan mudah terpedaya oleh bujukrayu dan tipudaya syetan. Baru shalat malam beberapa kali saja, sudah mengaku bahwa malaikat jibril telah turun kepadanya. Atau shalat lima waktunya belum genap, kemudian mengaku mendapatkan wahyu saat menjalani  semedi yang diperintahkan gurunya disebuah gua. Di sinilah pentingnya pemahaman agama yang mendalam agar kita punya parameter dan filter yang kuat untuk menghadapi tipudaya syetan.
Siasat ini sudah begitu banyak menelan korban dan menggelincirkan para ulama besar. Mereka tanpa sadar termakan oleh tipu daya setan ini. Setan berbisik: “ Ooo…kamu seorang ahli ibadah yang berilmu. Kini anda telah sampai ketingkat ikhlas dalam beribadah. Riya’ dan ujub sudah berhasil kau jauhi, maka kini engkau telah begitu dekat dengan tuhanmu. Engkau kini seorang muqorrobin, seorang aulia Allah, seseorang yang pasti dicintai Allah. Maka kini engkau telah memasuki tahapan dan dunia wali yang tak perlu lagi bersentuhan dengan amaliyah- amaliyah lahir. Engkau kini bagai samudera yang dapat menyerap segala kotoran dari sungai sekotor apapun. Maka kini maksiyat tak akan mempengaruhi samudera kebersihan hatimu. Hukum syari’at itu hanya berlaku bagi orang AWAM, bukan untuk orang KHOS seperti kamu, hukum syari’at sudah tidak diperlukan lagi untuk orang sederajat kamu karena tujuan syari’at adalah agar manusia mengingat Tuhan, dan kau kini sudah selalu mengingatnya, jadi buat apa syari’at bagimu?……”.
Pada tahapan ini banyaklah para orang pinter yang akhirnya menjadi keblinger. Para malamatiyah palsu yang sesat menyesatkan, yang akhirnya memisahkan antara SYARI’AT, THORIQOT dan HAQIQOT, yang seharusnya seiring sejalan, berjalin dan berkelindan yang merupakan sebuah kesatuan tak terpisahkan, sebagai perwujudan dan pengejawantahan Iman, Islam, dan Ihsan.
Namun orang- orang yang mendapatkan petunjuk Allah dapat selamat dari jurus berbahaya ini dan mampu menjawab demikian: “ Bukankah Nabi Muhammad adalah makhluq terkasih dari Allah, namun beliau sholat malam sampai lebam- lebam kakinya? Bukankah para sahabat Nabi adalah manusia- manusia terbaik didikan baginda Rasulullah, namun mereka juga berjuang menegakkan dan menjalankan syari’at dengan mempertaruhkan harta bahkan jiwa dan raganya? Bukankah Allah telah berfirman: “ Sesungguhnya para Wali Allah itu mereka tak pernah merasa takut dan khawatir. Yakni mereka orang- orang beriman dan mereka semuanya bertaqwa. (Q.S.Yunus 62- 63). Maka apalah aku ini jika dibanding dengan mereka sejatinya para wali- wali Allah itu?”
Maka Setanpun surut sejenak untuk kemudian maju dengan jurus maut andalannya.
Jurus Ketujuh: Serahkan pada takdir, tak ada gunanya ber- ikhtiyar.
Kata Setan: “ Ya sudahlah, kau adalah orang berilmu, pasti tahu sabda Nabi tentang takdir. Betapapun kau rajin beribadah sehingga jarakmu dengan surga tinggal sejengkal, kalau takdirmu ke neraka maka tetaplah kamu akan masuk neraka. Sebaliknya jika kau bermaksiyat sampai jarakmu dengan neraka tinggal sejengkal, namun bila takdirmu ke surga, pastilah kau akan masuk ke surga. Bukan begitu? Jadi buat apa kalian ber capek- capek beribadah kepada Allah?”.
Orang yang mendapat taufik dari Allah akan berkata untuk menjawab rayuan gombal setan tersebut: “Takdir itu adalah urusan Allah dan hak prerogatif Allah semata, bukan urusan makhluk seperti aku ini. Tugasku sebagai seorang hamba yang baik adalah berikhtiar dan melakukan usaha dengan sungguh- sungguh. Lagipula aku ingin mendapat ridho Rabb ku yang menciptakan aku. Maka seandainya aku harus masuk neraka dalam keadaan aku berbakti kepada Nya, itu lebih aku sukai dari aku harus masuk kedalamnya dalam keadaan mendurhakai Tuhanku….”.
Semoga kita selalu dapat menangkis serangan dan rayuan Setan laknat, tentunya hanya dengan pertolongan Allah, Sang Pencipta alam semesta dan Pencipta Malaikat, Iblis, Setan, dan Pencipta kita semua. Alloohumma Inni A’uudzubika Min Hamazaatis Syayaathiin Wa a’uudzubika Robbii an yahdhuruun. Amiiin.

Jumat, 09 Desember 2011

Memahami Hari Asyura

Kisah di balik hari Asyura
 Ibu-ibu yang mudah-mudahan senantiasa dirahmati Allah swt, marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah Swt. Yaitu dengan senantiasa bersemangat dalam mempelajari agama-Nya serta mengamalkannya. Karena dengan bertakwa kepada-Nya, Allah Swt akan menambahkan kepada kita ilmu yang bermanfaat serta memberikan kepada kita bimbingan dan petunjuk-Nya.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
Dan bertakwalah kepada Allah, maka Allah akan mengajarkan kepada kalian ilmu dan Allah Maha mengetahui segala sesuatu.” (Al-Baqarah: 282)
Ketahuilah, bahwasanya Allah dalam banyak firman-Nya telah menceritakan kepada kita tentang kisah para nabi dan rasul-Nya. Dan Allah Swt telah memberitakan kepada kita bahwa pada kisah-kisah tersebut mengandung pelajaran yang sangat berharga bagi orang-orang yang mau merenungkannya. Hal ini sebagaimana tersebut dalam firman-Nya:
Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu (yaitu para nabi) terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al-Qur`an itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, serta sebagai petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.(Yusuf: 111)
Ibu-ibu rahimakumullah, di antara kisah penting yang Allah Swt sebutkan adalah kisah tentang Nabi-Nya, Musa ‘alaihissalam. Bahkan kisah ini Allah sebutkan secara berulang-ulang dalam berbagai surat dalam Al-Qur`an. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya kisah ini untuk diketahui dan dipelajari. Kisah ini menceritakan tentang binasanya seorang penguasa zhalim yang diberi gelar Fir’aun. Disebutkan dalam kisah tersebut, Fir’aun adalah penguasa yang berbuat semena-mena dan zhalim kepada sebagian penduduknya. Dia membagi penduduknya menjadi dua golongan untuk kemudian memperlakukannya dengan tidak adil. Dia muliakan golongan yang berasal dari bangsanya dengan diberi kebebasan untuk melakukan apa yang mereka suka. Dan dia hinakan golongan lainnya, yaitu yang berasal dari Bani Israil yang pada saat itu mereka adalah sebaik-baik manusia. Terlebih setelah sampai berita kepada Fir’aun akan datangnya seorang dari keturunan Bani Israil yang akan menjadi sebab runtuhnya kekuasaannya. Segeralah dia mengutus orang-orangnya untuk membunuh setiap bayi laki-laki dari Bani Israil yang dilahirkan pada masa itu.
Hal ini sebagaimana tersebut dalam firman-Nya:“Sesungguhnya Fir’aun telah berbuat sewenang-wenang di muka bumi dan menjadikan penduduknya bergolong-golongan, menindas segolongan dari mereka (yaitu Bani Israil), menyembelih anak laki-laki mereka dan membiarkan hidup anak-anak perempuannya. Sesungguhnya Fir’aun termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan.” (Al-Qashash: 4)
Ketika Musa lahir pada waktu itu, ibunya pun mengkhawatirkan keselamatan putranya. Namun Allah  menghendaki Musa selamat dari kezhaliman Fir’aun dan bala tentaranya. Bahkan Musa akhirnya hidup di tengah-tengah keluarga Fir’aun. Makan dan minum serta berpakaian juga mengendarai kendaraan sebagaimana yang digunakan oleh keluarga Fir’aun. Begitulah kekuasaan Allah, sehingga orang yang akan dijadikan sebagai sebab runtuhnya kekuasaan Fir’aun, justru hidup dan besar di lingkungan keluarganya.
Saudara-saudaraku kaum muslimin rahimakumullah,sesungguhnya pertolongan Allah swt kepada wali-wali-Nya dari kalangan orang-orang yang beriman adalah pertolongan yang akan datang pada setiap masa dan setiap tempat di manapun mereka berada. Dengan pertolongan tersebut, Allah Swt tampakkan kebenaran dan Allah Swt hinakan kebatilan. Disebutkan dalam kisah tersebut, bahwa kemudian Allah  menjadikan Musa sebagai rasul-Nya. Namun ketika Allah  mengutus Musa untuk mendakwahi Fir’aun dan pengikutnya serta memerintahkan mereka untuk beriman kepada Allah  dan Rasul-Nya, Fir’aun pun menolaknya bahkan dengan sombongnya mengatakan: “Akulah tuhan kalian yang maha tinggi.” Allah menyebutkan dialog antara Musa ‘a dengan Fir’aun dalam firman-Nya:
Fir’aun bertanya: “Siapa Rabb semesta alam itu?” Musa menjawab: “Rabb Pencipta langit dan bumi dan apa-apa yang di antara keduanya (itulah Rabbmu), jika kamu sekalian (orang-orang yang) memercayai-Nya.” Berkata Fir’aun kepada orang-orang sekelilingnya (dengan nada mengejek): “Apakah kalian tidak mendengarkan?” Musa berkata (pula): “(Dia adalah) Rabb kalian dan Rabb nenek-nenek moyang kalian yang dahulu.” Fir’aun berkata: “Sesungguhnya Rasul kalian yang diutus kepada kalian benar-benar orang gila.” Musa berkata: “Rabb yang menguasai timur dan barat serta apa yang ada di antara keduanya, (itulah Rabb kalian) jika kalian mempergunakan akal.” Fir’aun berkata: “Sungguh jika kamu menyembah Ilah selainku, benar-benar aku akan menjadikan kamu salah seorang yang dipenjarakan.” (Asy-Syu’ara: 23-29)
Disebutkan pula dalam kisah tersebut, bahwa ketika Fir’aun tetap di atas kekafiran dan kesesatannya, Allah  perintahkan Musa meninggalkan negeri tersebut. Namun ketika Fir’aun mengetahui hal itu, dia memerintahkan pasukannya untuk mengejar Musa dan pengikutnya. Hal ini sebagaimana firman-Nya:
Maka Fir’aun dan bala tentaranya dapat menyusuli mereka di waktu matahari terbit. Maka setelah kedua golongan itu saling melihat, berkatalah pengikut-pengikut Musa: ‘Sesungguhnya kita benar-benar akan tersusul.’ Musa menjawab: ‘Sekali-kali tidak akan tersusul; sesungguhnya Rabbku besertaku, kelak Dia akan memberi petunjuk kepadaku.’ Lalu Kami wahyukan kepada Musa: ‘Pukullah lautan itu dengan tongkatmu.’ Maka terbelahlah lautan itu dan tiap-tiap belahan adalah seperti gunung yang besar. Dan di sanalah Kami dekatkan golongan yang lain (yaitu Fir’aun dan kaumnya). Dan Kami selamatkan Musa dan seluruh orang-orang yang besertanya. Dan Kami tenggelamkan golongan yang lain itu (Fir’aun dan bala tentaranya). Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar merupakan suatu tanda yang besar namun kebanyakan mereka tidaklah beriman.” (Asy-Syu’ara`: 60-67)
Di dalam sebagian kisah Nabi Musa dan Fir’aun tersebut, kita bisa mendapatkan beberapa pelajaran. Di antaranya adalah:
  1. Bahwa orang-orang yang beriman akan diuji dengan musuh-musuhnya dari kalangan orang-orang munafik dan orang-orang kafir. Hal itu untuk menampakkan siapa yang benar-benar kokoh imannya serta siapa yang lemah imannya atau bahkan menyembunyikan kekafiran di dalam hatinya.
  2. Bahwa kebatilan meskipun didukung kekuatan sebesar apapun, tidak akan bisa mengalahkan kebenaran. Allah pasti akan menampakkan kebenaran dan akan menghancurkan kebatilan. Maka orang-orang yang mengetahui dirinya di atas kebenaran harus yakin bahwa Allah  akan menjaga serta memenangkannya. Barangsiapa sabar dan kokoh di atas agama Allah, niscaya akan mendapat pertolongan dan kemenangan dari Allah.
  3. Bahwa kemenangan akan datang bersama kesabaran dan bahwa bersama kesulitan akan datang jalan keluar
Marilah kita senantiasa bertakwa kepada Allah dan senantiasa mengambil pelajaran dari kemenangan-kemenangan yang diraih oleh wali-wali Allah . Di antaranya adalah kemenangan yang Allah karuniakan kepada Nabi-Nya yaitu Musa ‘alaihissalam.
Perlu diketahui, bahwa kisah diselamatkannya Musa bersama pengikutnya serta ditenggelamkannya Fir’aun dan bala tentaranya, terjadi pada hari yang kesepuluh dari bulan Muharram. Itulah hari yang kemudian dikenal dengan nama hari ‘Asyura. Hari tersebut merupakan hari yang diberi keutamaan dan dimuliakan sejak dahulu kala. Sehingga Nabi Musa berpuasa pada hari tersebut sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah. Hal ini sebagaimana hadits yang disebutkan dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim, bahwa shahabat ‘Abdullah ibn Abbas ra berkata
“Bahwasanya ketika masuk kota Madinah, Rasulullah Saw mendapatkan orang-orang Yahudi berpuasa pada hari ‘Asyura. Maka Rasulullah Saw berkata kepada mereka: “Ada apa dengan hari ini sehingga kalian berpuasa padanya?” Mereka mengatakan: “Ini adalah hari yang agung, hari yang Allah selamatkan Musa dan kaumnya padanya serta Allah tenggelamkan Fir’aun dan pasukannya. Maka berpuasalah Musa sebagai bentuk rasa syukur dan kamipun ikut berpuasa padanya.” Maka Rasulullah Saw berkata: “Kalau demikian, kami lebih berhak dan lebih pantas terhadap Musa daripada kalian.” Maka berpuasalah Rasulullah saw pada hari tersebut serta memerintahkan para shahabatnya untuk melakukan puasa pada hari itu.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Dari hadits tersebut, kita dapatkan pelajaran bahwa para nabi adalah orang-orang yang menjadikan kemenangan sebagai sesuatu yang patut disyukuri, yaitu dengan menampakkan bahwa kemenangan datangnya adalah dari Allah Swt. Dan manusia adalah makhluk yang lemah serta membutuhkan pertolongan Allah sehingga mendorong dirinya untuk beribadah dengan ikhlas kepada-Nya. Maka Nabi Musa berpuasa pada hari tersebut. Begitu pula nabi kita Muhammad Saw. Sehingga tidak semestinya hari kemenangan itu justru dijadikan sebagai hari yang dirayakan untuk menampakkan kebanggaan atas kemampuan dan kekuatan bangsanya. Sehingga dirayakan dengan pesta-pesta dan foya-foya. Atau dengan mengadakan acara-acara hiburan serta petunjukan-pertunjukan yang sarat kemaksiatan. Namun semestinya hari tersebut mengingatkan akan kenikmatan Allah Swt sehingga mendorong untuk menjalankan dan menegakkan syariat-Nya.
Amalan Apakah yang Disunnahkan di Bulan Muharram?
Memperbanyak puasa selama bulan Muharram
Dari Abu Hurairah ra, Nabi saw bersabda:
 “Sebaik-baik puasa setelah Ramadlan adalah puasa di bulan Allah, bulan Muharram.” (HR. Muslim)

Dari Ibn Abbas ra, beliau mengatakan:
 “Saya tidak pernah melihat Nabi saw memilih satu hari untuk puasa yang lebih beliau unggulkan dari pada yang lainnya kecuali puasa hari Asyura’, dan puasa bulan Ramadhan.” (HR. Al Bukhari dan Muslim)


Puasa Asyura’ (puasa tanggal 10 Muharram)
Dari Abu Musa Al Asy’ari ra, beliau mengatakan:
Dulu hari Asyura’ dijadikan orang Yahudi sebagai hari raya. Kemudian Nabi saw bersabda: “Puasalah kalian.” (HR. Al Bukhari)
Dari Abu Qatadah Al Anshari ra beliau mengatakan:
Nabi saw ditanya tentang puasa Asyura’, kemudian beliau menjawab: “Puasa Asyura’ menjadi penebus dosa setahun yang telah lewat.” (HR. Muslim dan Ahmad).
Dari Ibn Abbas ra, beliau mengatakan:
Ketika Nabi saw sampai di Madinah, sementara orang-orang yahudi berpuasa Asyura’. Mereka mengatakan: Ini adalah hari di mana Musa menang melawan Fir’aun. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada para sahabat: “Kalian lebih berhak terhadap Musa dari pada mereka (orang yahudi), karena itu berpuasalah.” (HR. Al Bukhari)
Keterangan:
Puasa Asyura’ merupakan kewajiban puasa pertama dalam islam, sebelum Ramadlan. Dari Rubayyi’ binti Mu’awwidz radliallahu ‘anha, beliau mengatakan:
Suatu ketika, di pagi hari Asyura’, Nabi saw mengutus seseorang mendatangi salah satu kampung penduduk Madinah untuk menyampaikan pesan: “Siapa yang di pagi hari sudah makan maka hendaknya dia puasa sampai maghrib. Dan siapa yang sudah puasa, hendaknya dia lanjutkan puasanya.” Rubayyi’ mengatakan: Kemudian setelah itu kami puasa, dan kami mengajak anak-anak untuk berpuasa. Kami buatkan mereka mainan dari kain. Jika ada yang menangis meminta makanan, kami memberikan mainan itu. Begitu seterusnya sampai datang waktu berbuka. (HR. Al Bukhari dan Muslim)
Setelah Allah wajibkan puasa Ramadlan, puasa Asyura’ menjadi puasa sunnah. A’isyah ra mengatakan:
Dulu hari Asyura’ dijadikan sebagai hari berpuasa orang Quraisy di masa jahiliyah. Setelah Nabi saw tiba di Madinah, beliau melaksanakan puasa Asyura’ dan memerintahkan sahabat untuk berpuasa. Setelah Allah wajibkan puasa Ramadlan, beliau tinggalkan hari Asyura’. Siapa yang ingin puasa Asyura’ boleh puasa, siapa yang tidak ingin puasa Asyura’ boleh tidak puasa. (HR. Al Bukhari dan Muslim)
Puasa Tasu’a (puasa tanggal 9 Muharram)
Dari Ibn Abbas ra, beliau menceritakan:
Ketika Nabi saw melaksanakan puasa Asyura’ dan memerintahkan para sahabat untuk puasa. Kemudian ada sahabat yang berkata: Ya Rasulullah, sesungguhnya hari Asyura adalah hari yang diagungkan orang yahudi dan nasrani. Kemudian Nabi saw bersabda: “Tahun depan, kita akan berpuasa di tanggal sembilan.” Namun, belum sampai tahun depan, Nabi sudah diwafatkan. (HR. Al Bukhari)

Adakah anjuran puasa tanggal 11 Bulan Muharram?

Sebagian ulama berpendapat, dianjurkan melaksanakan puasa tanggal 11 Muharram, setelah puasa Asyura’. Pendapat ini berdasarkan hadis:
 “Puasalah hari Asyura’ dan jangan sama dengan model orang yahudi. Puasalah sehari sebelumnya atau sehari setelahnya.” (HR. Ahmad, Al Bazzar).
Hadis ini dihasankan oleh Syaikh Ahmad Syakir. Hadis ini juga dikuatkan hadis lain, yang diriwayatkan Al-Baihaqi dalam Sunan Al-Kubra dengan lafadz:
 “Puasalah sehari sebelumnya dan sehari sesudahnya.”
Dengan menggunakan kata hubung وَ (yang berarti “dan”) sementara hadis sebelumnya menggunakan kata hubung أَوْ (yang artinya “atau”).
Al-Hafidz Ibn Hajar menjelaskan status hadis di atas:
Hadis ini diriwayatkan Ahmad dan al-Baihaqi dengan sanad dhaif, karena keadaan perawi Muhammad bin Abi Laila yang lemah. Akan tetapi dia tidak sendirian. Hadis ini memiliki jalur penguat dari Shaleh bin Abi Shaleh bin Hay. (Ittihaf al-Mahrah, hadis no. 2225)
Demikian keterangan Syaikh Muhammad bin Shaleh al-Munajed.
Sementara itu, ulama lain berpendapat bahwa puasa tanggal 11 tidak disyariatkan, karena hadis ini sanadnya dhaif. Sebagaimana keterangan Al Albani dan Syaikh Syu’aib Al Arnauth dalam ta’liq musnad Ahmad. Hanya saja dianjurkan untuk melakukan puasa tiga hari, jika dia tidak bisa memastikan tanggal 1 Muharam, sebagai bentuk kehati-hatian.

Imam Ahmad mengatakan: Jika awal bulan Muharram tidak jelas maka sebaiknya puasa tiga hari: (tanggal 9, 10, dan 11 Muharram), Ibnu Sirrin menjelaskan demikian. Beliau mempraktekkan hal itu agar lebih yakin untuk mendapatkan puasa tanggal 9 dan 10. (Al Mughni, 3/174. Diambil dari Al Bida’ Al Hauliyah, hal. 52).
Disamping itu, melakukan puasa 3 hari, di tanggal 9, 10, dan 11 Muharram, masuk dalam cakupan hadis yang menganjurkan untuk memperbanyak puasa selama di bulan Muharram. Sebagaimana yang dinyatakan dalam hadis dari Abu Hurairah ra, bahwa Nabi saw bersabda: “Sebaik-baik puasa setelah Ramadlan adalah puasa di bulan Allah, bulan Muharram.” (HR. Muslim)
Ibnul Qayim menjelaskan bahwa puasa terkait hari Asyura ada tiga tingkatan:
  1. Tingkatan paling sempurna, puasa tiga hari. Sehari sebelum Asyura, hari Asyura, dan sehari setelahnya.
  2. Tingkatan kedua, puasa tanggal 9 dan tanggal 10 Muharram. Ini berdasarkan banyak hadis.
  3. Tingkatan ketiga, puasa tanggal 10 saja.
(Zadul Ma’ad, 2/72)

Bolehkah Puasa Tanggal 10 Saja?

Sebagian ulama berpendapat, puasa tanggal 10 saja hukumnya makruh. Karena Nabi saw berencana untuk puasa tanggal 9, di tahun berikutnya, dengan tujuan menyelisihi model puasa orang yahudi. Ini merupakan pendapat Syaikh Ibn Baz ra.
Sementara itu, ulama yang lain berpendapat bahwa melakukan puasa tanggal 10 saja tidak makruh. Akan tetapi yang lebih baik, diiringi dengan puasa sehari sebelumnya atau sehari sesudahnya, dalam rangka melaksanakan sunnah Nabi saw.
Dalam Majmu’ Fatawa, Syaikh Ibnu Utsaimin pernah ditanya:
Bolehkah puasa tanggal 10 Muharam saja, tanpa puasa sehari sebelumnya atau sehari sesudahnya. Mengingat ada sebagian orang yang mengatakan bahwa hukum makruh untuk puasa tanggal 10 muharram telah hilang, disebabkan pada saat ini, orang yahudi dan nasrani tidak lagi melakukan puasa tanggal 10.
Beliau menjawab:
Makruhnya puasa pada tanggal 10 saja, bukanlah pendapat yang disepakati para ulama. Diantara mereka ada yang berpendapat tidak makruh melakukan puasa tanggal 10 saja, namun sebaiknya dia berpuasa sehari sebelumnya atau sehari setelahnya. Dan puasa tanggal 9 lebih baik dari pada puasa tanggal 11. Maksudnya, yang lebih baik, dia berpuasa sehari sebelumnya, berdasarkan sabda Nabi saw : “Jika saya masih hidup tahun depan, saya akan puasa tanggal sembilan (muharram).” maksud beliau adalah puasa tanggal 9 dan 10 muharram….. Pendapat yang lebih kuat, melaksanakan puasa tanggal 10 saja hukumnya tidak makruh. Akan tetapi yang lebih baik adalah diiringi puasa sehari sebelumnya atau sehari setelahnya. (Majmu’ Fatawa Ibn Utsaimin, 20/42)
Ibu-ibu, disebutkan dalam Shahih Muslim, bahwa Nabi saw ditanya tentang puasa ‘Asyura, beliau  menjawab:
 “Puasa tersebut menghapus dosa satu tahun yang telah lalu.” (HR. Muslim)      
Dari hadits-hadits tersebut, dapat kita pahami bahwa kaum muslimin disunnahkan untuk berpuasa pada hari yang ke-9 dan ke-10 pada bulan Muharram, hari yang dikenal dengan Tasu’a dan ‘Asyura. Bahkan sebagian ulama menyebutkan disyariatkannya pula untuk berpuasa pada hari setelahnya yaitu hari yang kesebelas, dalam rangka menyelisihi orang-orang Yahudi dan Nashara. Wallahu a’lam bish-shawab.
Mudah-mudahan Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan taufiq-Nya kepada kita semua untuk melakukan puasa pada hari tersebut, dan mudah-mudahan kita mendapatkan keutamaan yang telah Allah janjikan.
Fenomena Thiyaroh di Bulan Muharram
Muharram -tahun baru dalam kalender hijriyah- orang jawa menamakan bulan ini dengan istilah Suro. Mungkin nama ini diambil dari kata Asyuro yaitu tanggal 10 Muharram. Latar belakang diistimewakan hari Asyuro karena pada hari tersebut dianjurkan bagi kaum muslimin untuk melakukan puasa sunah.
Hal menarik yang layak untuk dibahas di sini adalah keyakinan sebagian orang Jawa yang menganggap bulan ini sebagai bulan sial. Setiap orang yang punya agenda acara, mau tidak mau harus ditunda bulan depan atau dibatalkan. Dhuwe gawe neng ulan syuro alamat cilokoBerani jangkar ….melanggar, …ku-wa-lat! demikian anggapan mereka. Anehnya, keyakinan yang tidak bisa diterima akal yang fitrah ini tidak hanya hinggap di masyarakat pedalaman, tetapi juga merasuk kepada sebagian kalangan yang berpendidikan dan mengenal teknologi, seperti kalangan akademisi (mahasiswa dan dosen) dan orang-orang terpelajar lainnya.
Andaikan tidak ada hubungannya dengan surga dan neraka, bisa dikatakan ini adalah satu adat yang biasa dan tidak perlu dibahas. Namun dalam kacamata agama Islam, keyakinan dan anggapan sial di atas termasuk salah satu bentuk perbuatan syirik. Satu dosa yang sangat besar, lebih besar dibandingkan dosa-dosa besar lainnya dan kesyirikan tidak akan diampuni oleh Allah jika dibawa mati oleh pelakunya dan ia belum bertaubat kepada Allah. Mengerikan bukan?! Lebih mengerikan lagi jika banyak orang yang melakukannya namun tidak memahami hukumnya. Bisa dibayangkan, pelakunya akan merasa dirinya tidak berbuat dosa padahal dia tengah melakukan perbuatan kekafiran. Pada hakikatnya dia sedang melakukan kesyirikan sementara dia tidak tahu kalau yang ia lakukan adalah kesyirikan. Bagaimana ia akan bertaubat kepada Allah apabila ia merasa tidak melakukan kesalahan. Akhirnya, dia mati membawa dosa syirik, satu dosa yang tidak diampuni oleh Allah. Wal ‘iyadzu billaah
Dalam ilmu aqidah, keyakinan sial seperti di atas dinamakan thiyaroh. Thiyaroh adalah anggapan akan mendapatkan kesialan karena mendengar atau melihat sesuatu yang tidak disukai, padahal tidak ada bukti ilmiyahnya. Misalnya anggapan bulan Suro bulan malapetaka.
Thiyaroh adalah aqidah orang kafir jahiliyah.Sebelum Islam datang, orang musyrikin Arab memiliki keyakinan yang semodel dengan keyakinan orang Jawa. Di antaranya masyarakat jahiliyah menganggap bulan Safar (bulan setelah Muharam dalam kalender Hijriyah) sebagai bulan sial. Mereka takut dan tidak mau mengadakan kegiatan apapun di bulan Safar. Mereka juga berkeyakinan sial dengan burung hantu, karena mereka menganggap burung hantu adalah lambang kematian. Jika hinggap di atas rumah kemudian mematuk rumah tersebut, pertanda sebentar lagi akan ada anggota keluarga rumah tersebut yang akan meninggal.
Ketika Islam datang Nabi saw menghapus keyakinan ini, beliau bersabda,
Tidak ada penyakit yang menular dengan sendirinya, tidak ada keyakinan sial karena sebab tertentu, tidak ada keyakinan tentang burung hantu, dan tidak ada kesialan bulan safar.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).
Namun uniknya, keyakinan ini dihidupkan lagi oleh sebagian kaum muslimin Indonesia. Hanya saja, bulannya berganti. Jika masyarakat jahiliyah meyakini bulan Safar sebagai bulan sial, maka orang Jawa meyakini bulan Suro (Muharram) sebagai bulan sial.

Hukum Thiyarah

Nabi saw bersabda
Thiyaroh adalah syirik, thiyaroh adalah syirik… (beliau ulangi tiga kali)” (HR. Abu Daud dan Turmudzi).
Dalam hadis ini, Nabi menegaskan status perbuatan thiyaroh dan beliau mengulanginya sebanyak tiga kali. Menunjukkan betapa pentingnya hal ini untuk diingatkan. Thiyaroh dikatakan bentuk kesyirikan dan mengurangi tauhid seseorang, karena dalam thiyaroh terdapat dua hal:
  1. Memutus tawakkal kepada Allah dan bertawakkal kepada selain Allah.
  2. Bergantung pada sesuatu yang tidak ada hakikatnya.
Ulama menjelaskan bahwa hukum thiyaroh sebagai perbuatan kesyirikan dirinci menjadi dua:


a. Syirik kecil
(tidak menyebabkan keluar dari Islam), jika kejadian aneh, bulan Suro, burung hantu atau yang lainnya hanya dianggap sebagai sebab kesialan. Meskipun dia meyakini bahwa pencipta kesialan itu sendiri adalah Allah. Perbuatan ini digolongkan kesyirikan karena pelakunya bersandar pada sesuatu yang dia yakini sebagai sebab munculnya kesialan, padahal itu bukan sebab.


b. Syirik besar
(pelakunya diancam dengan kekafiran), jika diyakini bahwa bulan Suro yang mengatur terjadinya kesialan, bukan Allah. Keyakinan ini sama dengan menganggap ada makhluk yang bisa mengatur alam dengan mendatangkan bencana atau sial.
(Qoulul Mufid Syarh Kitab Tauhid, 1:575).

Pengaruh Thiyarah

Setiap orang yang terjangkit penyakit thiyaroh akan terjebak dalam dua keadaan yang dua-duanya tercela:
Pertama, membatalkan agenda yang telah direncanakan karena takut akan tertimpa kesialan. Perbuatan ini sangat tercela karena persis sebagaimana yang dilakukan orang musyrik jahiliyah. Pelaku perbuatan ini telah terjerumus dalam kesyirikan yang statusnya sebagaimana rincian tentang syirik di atas. Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
 “Barangsiapa yang membatalkan agendanya karena thiyaroh maka dia telah berbuat syirik.”
Sahabat bertanya, “Lalu apakah tebusannya?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Ucapkan:Allaahumma laa khaira illa khairuka wa laa thiyaro illa thiyaruka wa laa ilaaha ghoiruka
Yaa Allah, tiada kebaikan kecuali kebaikan dari-Mu, tiada kesialan kecuali sial karena taqdir-Mu, dan tiada Tuhan yang berhak disembah selain Engkau.” (HR. Imam Ahmad, no.7242, hadis hasan)
Kedua, tetap melakukan agenda kegiatan yang telah dijadwalkan, namun disertai dengan perasaan was-was dan khawatir, jangan-jangan nanti sial. Kualitas (nilai) keburukannya lebih rendah dari yang pertama, namun keadaan ini bukti rendahnya kualitas tawakkal dan tauhid pelakunya.

Terapi Untuk Mengobati Thiyarah

Penyakit aqidah yang sudah mendarah daging akan sangat sulit untuk bisa disembuhkan dan dihilangkan dalam sekejap. Sangat jarang ada orang yang bisa selamat dari penyakit thiyaroh ini. Bahkan para sahabat sendiri -manusia paling baik di umat ini- masih terjangkit penyakit ini. Sebagaimana sabda Nabi ‘alaihis shalaatu was salaam,
 “Thiyaroh adalah syirik, thiyaroh adalah syirik..(3X). kemudian Ibn Mas’ud radhiallahu’anhu mengatakan, “Tidak ada seorangpun di antara kita kecuali (terjangkit dalam hatinya penyakit thiyaroh ini). Hanya saja Allah menghilangkannya dengan tawakkal kepada-Nya.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi).
Maksud perkataan Ibn Mas’ud adalah munculnya perasaan was-was yang dialami para sahabat. (‘Aunul Ma’bud Syarh Sunan Abi Daud, 10:288).
Namun kata “sulit” bukanlah alasan untuk tidak mengobati penyakit membahayakan ini. Ada beberapa cara yang bisa ditempuh untuk menterapi diri dari penyakit thiyaroh:
  1. Memperdalam ilmu tauhid dan aqidah. Karena dengan modal ilmu, seseorang bisa berjalan sesuai jalur yang syariat tentukan.
  2. Memahami dan meyakini bahwa segala sesuatu yang ada di alam ini mutlak berada di bawah kehendak dan kekuasaan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tidak ada satu pun makhlukq yang bisa ikut campur.
  3. Bertawakkal dan pasrah sepenuhnya kepada Allah Swt. Sebagaimana yang dilakukan para sahabat.
  4. Sering-sering memohon perlindungan kepada Allah dari bisikan dan gangguan setan. Terutama ketika muncul perasan khawatir dan was-was. Kemudian lindungi diri kita dari godaan setan dengan membasahi mulut ini dengan dzikir-dzikir yang sesuai syari’at.
  5. Jangan menggagalkan satu rencana yang sudah diagendakan, disebabkan munculnya perasaan was-was. Karena hal ini berarti menjerumuskan kita kepada kesyirikan.
  6. Tetap optimis untuk meraih keberkahan dari kegiatan yang kita lakukan selama tidak melanggar syariat.
  7. Jangan pedulikan komentar orang yang justru akan memperparah penyakit thiyaroh. Bergaul-lah dengan orang-orang yang bisa membantu kita untuk memperbaiki tauhid dan mempertebal tawakkal.
  8. Lupakan segala bentuk kegagalan dunia dan pasrahkan hasil usaha kita kepada Sang Pengatur alam semesta.

Sebenarnya Mengapa Bulan Muharram Istimewa?

Bulan Muharram termasuk bulan yang istimewa. Banyak dalil yang menunjukkan bahwa Allah dan rasul-Nya memuliakan bulan Muharram, di antaranya adalah:
1. Termasuk Empat Bulan Haram (suci)
Allah berfirman,
 “Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus..(QS. At-Taubah: 36)
Keterangan:
a. Yang dimaksud empat bulan haram adalah bulan Dzul Qa’dah, Dzulhijjah, Muharram (tiga bulan ini berurutan), dan Rajab.
b. Disebut bulan haram, karena bulan ini dimuliakan masyarakat Arab, sejak zaman jahiliyah sampai zaman Islam. Pada bulan-bulan haram tidak boleh ada peperangan.
c. Az-Zuhri mengatakan,  “Dulu para sahabat menghormati syahrul hurum” (HR. Abdurrazaq dalam Al-Mushannaf, no.17301).
2.  Dari Abu Bakar ra, bahwa Nabi saw bersabda,
 “Sesungguhnya zaman berputar sebagai mana ketika Allah menciptakan langit dan bumi. Satu tahun ada dua belas bulan. Diantaranya ada empat bulan haram (suci), tiga bulan berurutan: Dzul Qo’dah, Dzulhijjah, dan Muharram, kemudian bulan Rajab suku Mudhar, antara Jumadi Tsani dan Sya’ban.” (HR. Al Bukhari dan Muslim)
3.  Dinamakan Syahrullah (Bulan Allah)
Dari Abu Hurairah ra Nabi saw bersabda,
 “Sebaik-baik puasa setelah Ramadlan adalah puasa di bulan Allah, bulan Muharram.” (HR. Muslim)
Keterangan:
a. Imam An Nawawi mengatakan, “Hadis ini menunjukkan bahwa Muharram adalah bulan yang paling mulia untuk melaksanakan puasa sunnah.” (Syarah Shahih Muslim, 8:55)
b. As-Suyuthi mengatakan, Dinamakan syahrullah –sementara bulan yang lain tidak mendapat gelar ini– karena nama bulan ini “Al-Muharram” nama nama islami. Berbeda dengan bulan-bulan lainnya. Nama-nama bulan lainnya sudah ada di zaman jahiliyah. Sementara dulu, orang jahiliyah menyebut bulan Muharram ini dengan nama Shafar Awwal. Kemudian ketika Islam datanng, Allah ganti nama bulan ini dengan Al-Muharram, sehingga nama bulan ini Allah sandarkan kepada dirinya (Syahrullah). (Syarh Suyuthi ‘Ala shahih Muslim, 3:252)
c. Bulan ini juga sering dinamakan: Syahrullah Al Asham [arab: شهر الله الأصم ] (Bulan Allah yang Sunyi). Dinamakan demikian, karena sangat terhormatnya bulan ini (Lathaif al-Ma’arif, Hal. 34). karena itu, tidak boleh ada sedikitpun friksi dan konflik di bulan ini.
4.  Ada satu hari yang sangat dimuliakan oleh para umat beragama. Hari itu adalah hari Asyura’. Orang Yahudi memuliakan hari ini, karena hari Asyura’ adalah hari kemenangan Musa bersama Bani Israil dari penjajahan Fir’aun dan bala tentaranya. Dari Ibnu Abbas ra, beliau menceritakan,
5.  Para ulama menyatakan bahwa bulan Muharram adalah adalah bulan yang paling mulia setelah Ramadhan
Hasan Al-Bashri mengatakan,
Allah membuka awal tahun dengan bulan haram (Muharram) dan menjadikan akhir tahun dengan bulan haram (Dzulhijjah). Tidak ada bulan dalam setahun, setelah bulan Ramadhan, yang lebih mulia di sisi Allah dari pada bulan Muharram. Dulu bulan ini dinamakan Syahrullah Al-Asham (bulan Allah yang sunyi), karena sangat mulianya bulan ini. (Lathaiful Ma’arif, Hal. 34)
Allahu a’lam